Connect with us

Opini

Membumikan Kesiapsiagaan Bencana di Zona Pendidikan

Bahana Pena

Published

on

Oleh: Syamsul Lubis S.Pd M.Pd
(Guru/Relawan)

​Apakah anda sepakat tentang bunyi sebuah statemen: bencana tidak memiliki tanggal muncul, bencana tidak tertulis dikalender, hadirnya cenderung mendadak, menghentak kesiapsiagaan, meluluh lantakkan mentalitas kita yang tidak siap atas musibah yang ada.

Pengalaman menunjukkan kehadiran bencana “Tertentu” sulit untuk dikawal apalagi untuk bencana dengan skala besar, terkejut badan, psikis teraniaya, dengan tekanan sebagai dampak derita akibat bencana.

Kesiapsiagaan bukanlah keniscayaan, bukan pula hal seremonial belaka yang menuntut kita untuk lebih mawas diri dengan kondisi-kondisi yang muncul sesuai dengan jenis bencana.

Berdasarkan pengamanan penulis dalam kerja relawan kebencanaan, salah satu hal yang harus dilakukan untuk membangun budaya siaga adalah “Pembiasaan” melalui persiapan semaksimal mungkin untuk menghadapi resiko bencana. Mengingat pentingnya meminimalisir resiko, tidak bisa tidak, perlu persiapan serius dan menyiapkan perangkat pendukung seperti edukasi kesiapsiagaan kepada seluruh warga sekolah, membenahi sarana prasarana sekolah mulai dari menata tata letak mobilier dan menambah pengamanan mengurangi resiko terjatuh bila terjadi getaran atau gempa, merapikan kabel kabel listrik dan perawatan secara berkala karena sangat berbahaya dan berpotensi untuk menambah resiko luka dan kerugian yang tidak sedikit bila terjadi bencana kebakaran, membenahi jalan air pembuangan terkhusus parit dan penampungan yang dikwatirkan menjadi sumber meluapnya air dalam kondisi hujan deras atau buangan air dari saluran lain.

Manpower dalam kesiagaan ini adalah Tim Siaga Bencana yang dibentuk oleh kepala sekolah dengan job – job yang dibagi terstruktur sesuai Job Descriptions dan kebutuhan dilapangan. Dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang disusun, disepakati dan dipandu oleh ketua tim yang ditugaskan. Support sistem yang dibangun merupakan bagian dari proses pembiasaan melalui simulasi terbuka maupun simulasi tertutup. Hal ini akan menguatkan sistem dan SOP yang disusun.

Disaat seluruh warga sekolah telah teredukasi dengan hal kesiapsiagaan bencana, perangkat tim yang telah mengerti tugas dan fungsi serta perangkat daya dukung yang mumpuni, penulis yakini kita akan lebih siap, sekolah akan semakin mapan dan tidak panik bila menghadapi hadirnya bencana yang pastinya tidak kita inginkan.

Menyebutkan Kesiapsiagaan mungkin mudah, saya yakin dengan kondisi kekinian tiap orang mungkin sudah melakukan, meski standar yang dilakukan berbeda, tentu menyesuaikan kondisi tertentu termasuk kewilayahan, potensi bencana yang muncul baik karena faktor, alam, non alam, dan bencana sosial, sesuai dengan yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Usaha-usaha yang dilakukan di atas
merupakan bagian dari langkah kewaspadaan yang semestinya harus dipersiapkan sepenuh hati dengan mengedepankan pendekatan sistematis, terstruktur sebagai bagian langkah solusi pencegahan dengan menguatkan peran, menyusun SOP baik secara kelembagaan ataupun pemahaman oleh warga sekolah sehingga pembiasaan ini akan menguatkan seluruh warga sekolah untuk mengahadapi resiko bencana

Dengan banyaknya berkumpul anak usia sekolah dari berbagai tingkatan disuatu sekolah, harapan masyarakat tentunya anak-anaknya dalam kondisi aman untuk belajar, bertumbuh serta berkembang dalam pengawasan bapak ibu guru dan perangkat didalamnya. Sehingga tercipta suasana yang aman dengan iklim yang terbangun yakni “Pembiasaan” untuk siaga bencana.

Sekolah sebagai salah satu tempat berkumpulnya anak anak dari berbagai kategori usia untuk menempuh pendidikan tentu memiliki potensi menjadi korban bencana​ mengingat minimal setengah hari para pelajar berada dilingkungan sekolah. Dibalik ketidaksiapan dan ketidak fahaman akan menejemen bencana, menyimpan kekhwatiran atas munculnya resiko resiko yang semestinya dapat diminimalisir dengan melakukan kesiapsiagaan dan langkah-langkah mitigasi bencana dizona pendidikan.

Langkah kecil menuju sekolah Siaga Bencana, dapat dibangun dengan budaya siaga bencana, dimulai dari langkah-langkah ​mengenali lingkungan, membangun tim, memahami potensi bencana di sekitar, memasang “Marka Marka Denah Siaga Bencana” mulai dari tanda panah, tempat evakuasi sementara hingga simbol titik kumpul, selalu menyiapkan tas berisi kotak P3K, senter, air minum, makanan ringan tahan lama, dokumen penting, dan obat-obatan pribadi.

Dalam Kelembagaan dan sistem kerja, pimpinan sekolah dan Tim Siaga Bencana senantiasa terhubung dengan pimpinan vertikal untuk kondisi tertentu dalam pengambilan keputusan misalnya dalam menyikapi dampak bencana seperti kordinasi dengan pimpinan dinas untuk melaporkan perkembangan bencana dan pengambilan keputusan untuk memulangkan siswa atau menerima arahan mengenai meliburkan sekolah, berkordinasi dengan unsur pimpinan kewilayahan untuk daya dukung.

Mengingat pentingnya kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana yang akhir akhir akrab dengan wilayah kita, ​akan lebih cepat lebih baik untuk sekolah menyusun kegiatan simulasi bencana yang dilakukan secara berkala, konsisten dan berkelanjutan. Dapat juga menggandeng potensi SDM dari luar sekolah yang fokus di penanganan bencana tertentu seperti tim Damkar, BPBD, SAR atau PMI yang concern dalam penanggulangan bencana secara global. Menguatkan peran organisasi siswa yang fokusnya dalam menejemen bencana sebagai ekstrakokurikuler aktif seperti PMR akan memutus kepanikan yang muncul dan menegaskan daya dukung sekolah untuk terciptanya Tim Siaga Bencana yang lebih komplit dengan latar yang beriringan yakni, unsur guru, unsur Tata Usaha dan siswa

Tiap kita berpotensi menjadi korban, tiap kita berpotensi menjadi solusi. ​Mari dukung dan perkuat keberadaan Tim Siaga Bencana di lingkunan sekolah. Karena keselamatan adalah tanggungjawab bersama. Kesiagaan hari ini adalah investasi keselamatan untuk hari esok, untuk penyelamatan warga sekolah, untuk meminimalisir dampak luka tubuh, dampak kepada luka psikososial yang tidak sebatas berdarah tetapi menyayat kalbu, mari bergerak, mari membangun kebersamaan. Tim Siaga Bencana tidak sebatas seremoni, tetapi yang tampak hadir dan memberi peran berarti.

Salam Kemanusiaan…