Olah raga
Tren Biliar Naik Daun, Rumah Biliar Mulai Menjamur, POBSI Setempat Bisa Apa?
Oleh : Dony Kurniawan Pribadi (Humas KONI Padangsidimpuan)
Fenomena menjamurnya rumah biliar kekinian (hype pool) dan turnamen komunitas belakangan ini memang menjadi angin segar sekaligus tantangan besar bagi POBSI (Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia). Di satu sisi, biliar berhasil melepas citra negatif masa lalu dan bergeser menjadi gaya hidup anak muda yang populer.
Dilain sisi dari sekian banyak cabang olahraga (Cabor). Cabor biliar memiliki potensi besar dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Mereka pemilik rumah biliar selain penyumbang PAD juga berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja.
Namun, dari tren dan potensi itu muncul pertanyaan kritis: sejauh mana pengurus POBSI setempat (daerah) mampu merespons ledakan tren ini?
Di Kota Padangsidimpuan sendiri tren Biliar mulai diminati tidak hanya laki-laki kaum hawa juga dari usia remaja hingga dewasa terbukti di kota kecil ini sudah ada 3 rumah bilyar (biliar cafe) yang selalu rame pengunjung.
Secara ideal dan praktis, menurut penulis berikut adalah peta peran serta apa saja yang bisa dan harus dilakukan oleh POBSI setempat di tengah gelombang populernya olahraga ini:
1. Standardisasi dan Regulasi Turnamen Liar:
Saat ini, turnamen independen berskala kecil hingga menengah (open tournament) diadakan hampir setiap bulan oleh pemilik rumah biliar atau komunitas.
Apa yang bisa dilakukan POBSI: POBSI setempat tidak perlu membatasi, melainkan hadir sebagai pengawas dan pemberi standardisasi. POBSI harus memastikan turnamen tersebut menggunakan regulasi aturan permainan resmi (misal aturan WPA untuk Pool), klasifikasi handicap pemain yang adil, serta kualitas meja dan wasit yang bersertifikasi bila diperlukan.
2. Validasi dan Scouting Bakat dari Jalur Komunitas:
Banyak pebiliar berbakat (terutama usia muda) yang lahir dari turnamen-turnamen non-resmi atau sekadar nongkrong di hype pool.
Apa yang bisa dilakukan POBSI: Pengurus daerah harus rajin turun ke bawah (blusukan) untuk memantau turnamen komunitas tersebut. POBSI setempat bisa menjaring pemenang atau pemain potensial non-atlet untuk masuk ke dalam database pembinaan daerah, agar mereka bisa dipersiapkan menuju ajang resmi seperti Porprov atau PON.
3. Sinkronisasi Ageda Kompetisi:
Seringkali jadwal turnamen swasta tabrakan atau justru terlalu menumpuk di satu waktu, sehingga kualitas kompetisi menurun.
Apa yang bisa dilakukan POBSI: POBSI pengcab (pengurus cabang) berperan sebagai konduktor. Mereka bisa merangkul para pengusaha rumah biliar untuk menyusun kalender kejuaraan yang rapi sepanjang tahun, dikombinasikan dengan turnamen resmi seperti Piala Wali Kota atau Piala lainnya.
4. Mengubah “Gaya Hidup” Menjadi “Prestasi”:
Bagi sebagian besar anak muda saat ini, biliar masih dianggap sebagai rekreasi, tempat nongkrong estetik, atau sekadar hiburan malam.
Apa yang bisa dilakukan POBSI: POBSI setempat wajib melakukan edukasi dan menyediakan jalur konkret bagi mereka yang ingin serius. Pengurus perlu memfasilitasi akademi biliar junior, coaching clinic dengan atlet yang sudah propesional ataupun atlet nasional, atau mendirikan sekolah biliar dan pusat latihan yang terafiliasi resmi dengan KONI.
Tantangan Internal POBSI Setempat
Jujur saja, realita di lapangan menunjukkan bahwa kinerja POBSI di tiap daerah tidak merata. Beberapa tantangan yang sering membuat POBSI setempat terkesan “jalan di tempat” antara lain:
Keterbatasan Anggaran: Anggaran dari KONI daerah sering kali terbatas, memaksa POBSI harus pintar-pintar mencari sponsor swasta atau bapak angkat.
Birokrasi yang Kaku: Lambatnya respons pengurus daerah dalam merangkul komunitas biliar modern yang bergerak sangat dinamis lewat media sosial dan club biliar yang didirikan beberapa pecinta biliar.
Kurangnya Sinergi dengan Pengusaha: Belum semua pengurus POBSI setempat mau membuka diri dan berkolaborasi erat dengan para pemilik rumah biliar baru.
Jadi POBSI setempqt tidak hanya fokus pada pembinaan atlet, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan usaha rumah biliar sebagai ekosistem pendukung berkembang dengan baik, sebab dari rumah-rumah biliar ini dapat mencetak atlet-atlet baru yang berpotensi.
Intinya: POBSI setempat tidak boleh bertindak seperti menara gading yang hanya muncul saat menjelang PON atau Porprov. Momentum biliar sedang “naik daun” ini adalah kesempatan emas. Jika POBSI setempat mampu menurunkan ego birokrasinya dan aktif berkolaborasi dengan ekosistem swasta serta komunitas, Indonesia tidak akan kekurangan stok atlet biliar berkelas dunia.