Opini
HAORNAS 2026 ANTARA REFLEKSI, TATA KELOLA PRESTASI DAN SUPPORT SISTEM
‘Sebuah Catatan tentang Pembinaan, Konsistensi, dan Masa Depan Olahraga Daerah”
Oleh: Syamsul Lubis S.Pd M.Pd. Alumni Pascasarjana UNIMED Prodi Pendidikan Olahraga
Hari Olahraga Nasional kembali diperingati. Seragam olahraga dikenakan, upacara digelar, spanduk dibentangkan, berbagai pertandingan diselenggarakan. Semua terlihat semarak.
Tetapi setelah seremoni selesai, satu pertanyaan penting patut kita ajukan:
Apa yang benar-benar berubah dalam pembinaan olahraga kita?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah persoalannya. Kita sering begitu bersemangat membicarakan prestasi ketika sebuah kejuaraan sudah di depan mata.
Kita ingin atlet membawa pulang medali, nama daerah berkibar, dan lagu kebangsaan berkumandang. Namun, kita kadang lupa bahwa medali adalah hasil, bukan titik awal. Prestasi tidak bisa dibangun dalam hitungan minggu.
Atlet tidak dapat dicetak hanya menjelang pertandingan. Mereka membutuhkan proses bertahun-tahun, mulai dari pencarian bakat, latihan teratur, kompetisi yang berjenjang, pendampingan pelatih, fasilitas yang layak, hingga perhatian setelah mereka berhasil mengharumkan nama daerah.
Di sinilah HAORNAS 2026 seharusnya menjadi momentum untuk bercermin. Jangan sampai kita hanya sibuk mencari atlet ketika kejuaraan sudah dekat. Jangan pula baru memberikan perhatian ketika seorang atlet sudah membawa pulang medali.
Kalau kita ingin juara, maka perhatian terhadap atlet juga harus dimulai jauh sebelum mereka menjadi juara. Salah satu tantangan terbesar olahraga adalah pembinaan yang tidak boleh bersifat musiman.
Hari ini atlet dipuji karena menang. Besok, ketika kompetisi selesai, mereka kembali berjuang sendiri. Pola seperti ini tidak akan melahirkan sistem prestasi yang kuat. Kita membutuhkan keberanian untuk membangun pembinaan secara berkelanjutan.
Sekolah Harus Menjadi Tempat Pertama Pencarian Talenta
Guru olahraga harus diberikan ruang untuk mengidentifikasi potensi. Klub dan organisasi olahraga harus menjadi tempat pengembangan kemampuan. Pelatih harus terus meningkatkan kompetensi. Pemerintah harus hadir melalui kebijakan, fasilitas, kompetisi, dan dukungan yang nyata.
Semua mata rantai itu harus tersambung. Jika satu saja terputus, perjalanan menuju prestasi akan menjadi lebih berat.
Prestasi Tidak Boleh Hanya Diukur dari Medali
Ada hal lain yang juga perlu diluruskan. Ukuran keberhasilan olahraga jangan semata-mata berapa banyak medali yang dibawa pulang.
Kita juga harus melihat berapa banyak anak muda yang berhasil dijauhkan dari aktivitas negatif melalui olahraga. Berapa banyak bibit baru yang ditemukan. Berapa banyak sekolah yang aktif membina atlet. Berapa banyak kompetisi usia dini yang digelar secara rutin.
Sebab, medali adalah puncak gunung. Yang sering tidak terlihat adalah fondasi besar di bawahnya. Kalau fondasinya kuat, prestasi akan memiliki peluang untuk tumbuh. Tetapi jika kita hanya mengejar puncaknya tanpa membangun fondasi, prestasi akan datang dan pergi seperti musim.
Dari Padangsidimpuan untuk Prestasi yang Lebih Besar
Dalam konteks olahraga daerah, termasuk Kota Padangsidimpuan, HAORNAS 2026 semestinya menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali semangat pembinaan.
Kita memiliki banyak anak muda dengan potensi. Persoalannya bukan hanya apakah mereka berbakat, tetapi apakah sistem kita cukup kuat untuk mengantarkan bakat itu menjadi prestasi?
Jangan sampai anak-anak berbakat harus mencari tempat lain hanya karena di daerahnya tidak tersedia ruang latihan, kompetisi, fasilitas, atau pembinaan yang memadai.
Kota yang serius terhadap olahraga bukan hanya kota yang memiliki lapangan. Kota yang serius terhadap olahraga adalah kota yang mampu membangun ekosistem prestasi.
Mulai dari sekolah, klub, pelatih, organisasi olahraga, pemerintah, dunia usaha, orang tua, hingga masyarakat semuanya memiliki peran.
HAORNAS Jangan Berhenti di Seremoni. Karena itu, HAORNAS 2026 jangan hanya menjadi kalender tahunan. Jadikan ia sebagai rapor pembinaan olahraga kota salak tercinta.
Mari tanyakan dengan jujur: apakah pembinaan sudah berjalan? Apakah atlet muda mendapatkan kesempatan bertanding? Apakah pelatih mendapatkan dukungan? Apakah fasilitas digunakan dan dirawat dengan baik? Apakah atlet yang berprestasi mendapatkan penghargaan? Dan yang paling penting, apakah kita benar-benar sedang menyiapkan generasi juara berikutnya?
Kalau jawabannya belum, maka HAORNAS seharusnya menjadi momentum untuk memperbaikinya. Kita tidak kekurangan mimpi. Yang sering kita kekurangan adalah konsistensi untuk mengubah mimpi menjadi program, program menjadi pembinaan, dan pembinaan menjadi prestasi.
Maka pada HAORNAS 2026 ini, mari berhenti sejenak dari sekadar tepuk tangan untuk para juara. Mari bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang sudah kita lakukan agar juara berikutnya lahir dari daerah kota tercinta. Sebab olahraga yang maju bukan olahraga yang hanya ramai ketika pertandingan berlangsung.
Olahraga yang maju adalah olahraga yang tetap bekerja ketika tidak ada kamera, tidak ada podium, dan belum ada medali.
Di sanalah prestasi sesungguhnya dimulai. HAORNAS 2026 — Jangan hanya merayakan prestasi. Bangun sistem yang melahirkannya. Tetap semangat para pejuang olahraga, para pelatih, atlit dan penggerak olahraga
#Menuju Pentas Juara
Penulis adalah Guru SMAN 1 Padangsidimpuan, 9 September 2026